Kalo kalian ngikutin trend gaming di Indonesia, pastinya kalian tau banget satu game ini. Ini adalah Parakacuk atau yang sekarang sudah resmi namanya jadi Troublemaker. Game ini hype banget di Indonesia. Terbukti dengan banyaknya streamer Indonesia yang mainin, menjadi percakapan utama di berbagai sosmed, dan game berhasil banget bikin gamer Indonesia terpikat. Tapi, apakah game yang katanya digadang sebagai “Bully”nya Indonesia bisa memenuhi ekspektasinya? Jadi ini sudut pandang gue untuk game ini.

Menyandang ekspektasi besar memang sangat berat terutama untuk Troublemaker. Di satu sisi, ini adalah upaya ambisius Gamecom Team untuk bisa memberikan game action dan genre yang segar untuk game buatan Indonesia. Di sisi yang lain, upaya ini terasa terlalu ambisius hingga banyak mengorbankan banyak aspek dalam game ini.

Disclaimer

Review ini tidak berpihak terhadap developer meskipun AADG masuk credit (Shout out dulu buat Gamecom Team). Serta bukan merupakan upaya untuk menjelekkan atau mendiskreditkan Troublemaker. Gue akan bilang apa yang gue suka dan tidak suka tentang game ini secara apa adanya. Semoga bisa menjadi masukan untuk game selanjutnya yang akan di develop oleh Gamecom Team, karena sejujurnya Troublemaker masih memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan.

Permasalahan Utama: Story

Ceritanya ko gini sih?

Pertama-tama kita bicara story. Di bagian ini lah yang bikin gue ga bisa relate terhadap karakter dan dunia Troublemaker secara keseluruhan. Long story short, seorang anak bernama Budi harus pindah ke SMK Cipta Wiyata karena Ibunya berharap dengan pindahnya anak ini, Budi bisa berhenti berantem dan mendapatkan masa depan yang lebih baik. Akan tetapi, waktu masuk SMK Cipta Wiyata, ternyata ada turnamen adu fisik tonjok-tonjokkan untuk merebutkan dana BOS yang bisa dipakai setelah lulus untuk jadi modal.

Premis ceritanya unik tapi terlalu ngawang dan kaya ga masuk akal. Bagian dimana turnamen “gelut” semacam ini bisa di acc sekolah saja sudah tidak masuk akal. Cerita di game ini tidak bisa merefleksikan keadaan nyata keadaan anak SMA/SMK atau mayoritas sekolah negeri di Indonesia. Bahkan, film Dillan saja bisa lebih merefleksikan anak bandel tukang gelut. Gue merasa cerita yang dibawa ini saking uniknya sudah ditahap yang diluar nalar dan jadinya membuat kurang bisa empati ke karakter di game ini. Story game ini malah lebih menarik di chapter-chapter akhir dimana Budi dan Gengnya mulai bonding satu sama lain. Mengapa premis ini tidak diambil? Anak baru, pindah ke suatu sekolah, ngelawan bully di sekolahnya atau ngelawan sekolah lain, menyebabkan geng ini makin erat persahabatannya (Ya premisnya bully sih, tapi maksud gue bisa dibuat lebih natural dan relatable aja untuk storynya).

Terlalu Banyak Sumpah Serapah

Voice acting dan pemilihan script pada game ini menurut gue ga pas dan ga natural. Apalagi penggunaan kata kasar yang terlalu banyak dan tidak pada tempatnya. Kemudian audio voice acting juga yang ga di mixing dengan baik. Di beberapa scene suaranya budi kecil banget dibandingin sama yang lain. Hal ini menyebabkan gue harus baca subtitle secara terus-menerus. Pemilihan dialog dalam game ini pun terasa terlalu dipaksakan untuk masuk banyak easter egg dari berbagai game. Hal ini berimbas pada penceritaan yang kurang baik. Permasalahan terlalu banyak easter egg pun membuat game ini hanya ngejar para pemain untuk berlomba-lomba mencari easter egg dan tidak fokus pada cerita utamanya.

Art Direction yang Membingungkan

Artstyle 2D yang digunakan di Troublemaker pun unik. Gue sangat suka dengan pilihan ini. Sayangnya model 3Dnya, mohon maaf, sangat kurang dan ga bisa ngimbangin artwork 2Dnya. Jika game ini masih alpha atau demo, hal ini masih bisa dimaklumi. Sudah menjadi masalah ketika game ini full release, kenapa rambut NPC masih ada yang pitak-pitak. Karakter 3Dnya juga datar tidak ada ekspresi apa-apa, beda sekali seperti bagian komiknya. Proporsinya pun banyak yang kurang pas. Alangkah model 3Dnya bisa menyatu dengan model 2Dnya, mungkin game ini akan bisa lebih memorable.

Terbantu oleh Combat…. Meskipun Tidak Sempurna

Secara gameplay untuk mekanik berantemnya yang bisa membuat gue stay untuk main. Combatnya masih bisa dimaklumi dan dimainkan. Dengan adanya sistem stamina pun membuat player ga bisa asal button mashing dan menuntut untuk lebih wise dalam melawan musuh. Masalahnya adalah it gets old very fast. Dengan strategi yang sama, gue bisa ngalahin semua musuh di game ini tanpa berfikir cara yang lebih kreatif dan item yang ada pun ga terasa membantu. Gerakan musuh biasa dan boss yang hampir sama, boss battle pun juga hampir sama gerakannya, membuat combat terasa repetitive dan membosankan. Dan gue ga ngerti kenapa boss battle-nya harus punya stage tapi gaada improvement atau difficulty yang berbeda. Terasa hanya sekadar memanjangkan durasi saja.

Invisible Wall Everywhere

Troublemaker pun mengusung konsep open world dimana kalian bisa bereksplorasi. Sayangnya, invisible wall disini terlalu banyak dan eksplorasi pun baru bisa kalian raih di pertengahan game. Alangkah lebih baik kalau game ini dibuat linear saja. Kalau kita bicara game open world, sudah sepatutnya ada side activity dan game ini menyediakan hal tersebut. Sayangnya lagi-lagi side activity yang ada pun kurang seru untuk dimainkan dan terkesan yang penting ada. Lebih tepat jika game ini dibuat linear saja dan mengambil beberapa elemen dari side activity untuk berprogress.

Ternyata kita bisa main dengan karakter lain

Kemudian ada part dimana kalian bisa mainin karakter lain yaitu Zaenal, dan Rani. Untuk part Zaenal dan Rani ini bikin gamenya lebih fresh sedikit. Sepertinya lebih baik kalau mereka dimasukan lebih awal dengan porsi yang lebih seimbang. Combatnya Zaenal itu lebih seru loh. Gameplay Rani meskipun stealthnya membingungkan, setidaknya bisa memberi penyegaran sedikit dari ritme game yang cuma cutscene terus gebuk-gebukan. Andaikan kalau game ini dibuat linear dengan 3 karakter bisa dimainkan dalam porsi yang lebih seimbang, bisa berpotensi lebih menarik dan tidak repetitive.

Kesimpulan

Overall, Troublemaker merupakan proyek ambisius yang melupakan elemen terpentingnya, yaitu gameplay dan story. Gameplay dan story yang kurang matang menyebabkan game ini justru kurang bisa memuaskan ekspektasi gue yang sudah cukup tinggi untuk Troublemaker. Gue bisa bilang, tidak bisa selamanya kita merasa cukup dengan produk Indonesia untuk saat ini terutama di game. Kalau kita bisa ambil contoh, game-game lain buatan Indonesia untuk saat ini sudah mulai terasa lebih matang dan proper untuk bisa dilepas ke pasar luar negeri, even untuk pasar Indonesia sendiri. Apakah game ini sudah cukup baik? Gue rasa masih banyak hal yang bisa ditingkatkan karena potensi dari Troublemaker ini sangat tinggi. Semoga kedepannya Gamecom Team bisa membuat game yang lebih matang secara eksekusi dan tidak terpaut pada gimik-gimik tambahan yang kurang menunjang core element dari game itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here