Tahun 2016 mungkin menjadi salah satu tahun yang paling berkesan bagi Blizzard dan para gamer FPS. Pasalnya, tim dari Blizzard yang dipimpin oleh Jeff Kaplan mengumumkan sebuah game baru PvP dengan konsep gameplay yang sangat unik bernama Overwatch.

Overwatch dirilis dengan review yang sangat positif, berkatnya game ini juga berhasil mendapatkan penghargaan The Game of The Year dari The Game Awards di tahun 2016. Dibantu dengan lore cerita yang kuat, Overwatch pada akhirnya menjadi game populer di masanya. 

Tiga tahun berlalu, Blizzard mengumumkan seri terbaru dari Overwatch yaitu Overwatch 2. Berbeda dengan seri pertamanya, Overwatch 2 terlihat lebih difokuskan pada mode campaign atau story mode disamping tetap adanya mode PvP. 

Dengan masa pengembangan selama tiga tahun semenjak pengumuman pertamanya, Overwatch 2 akhirnya rilis di Oktober 2022 sebagai tahap early access dengan hanya menyediakan mode PvP 5v5. Blizzard juga mengubah game ini menjadi free to play. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah game ini sebagus seri pertamanya atau justru sebaliknya?

Sebagai catatan, review ini dibuat hanya untuk tahap early access yang dimana hanya menyediakan mode multiplayer 5v5, tanpa Story Mode.

Overwatch 2 masih menggunakan core gameplay yang sama seperti di seri sebelumnya. Pemain dari kedua tim harus menyelesaikan objektif untuk meraih kemenangan. Namun hal yang berbeda terletak di keputusan Blizzard untuk mengubah 6v6 menjadi 5v5. Sejauh apa pengaruhnya? 

Berdasarkan pengalaman penulis dalam memainkan game ini semenjak beta pertama, 5v5 ternyata jauh lebih menyenangkan untuk dimainkan. Pasalnya dengan ability unik di setiap karakter, role yang berbeda, dan pengaruh map yang terkadang memiliki luas yang terbatas, membuat meta tidak begitu banyak berubah di Overwatch 1 menggunakan formasi 6v6. Sebagai contoh duo shield dari Sigma dan Orisa ditambah dengan Bastion yang siap menghujani anda dengan peluru di posisi belakang menjadi pertahanan yang sulit untuk ditembus. 

Berbeda dengan Overwatch 2, hal-hal seperti itu tidak lagi terjadi. Ditambah, Blizzard juga melakukan perubahan ability untuk beberapa karakter termasuk menambah pasif ability untuk role Tank, DPS, dan Support. Tank kini akan memiliki keputusan yang penting, apakah ia ingin menyerang maju untuk mengalihkan perhatian lawan atau justru tetap di belakang untuk melindungi tim. 

Dinamika permainan yang seperti tadi membuat Overwatch 2 lebih banyak variasi strategi untuk digunakan. Semua pemain kini dituntut untuk lebih agresif dan aktif, termasuk untuk Support sendiri yang harus waspada dengan serangan para flanker yang siap membunuh dari belakang. 

Menyinggung kembali ability pasif yang sudah disebut sebelumnya, kini Tank lebih kuat tidak terkena knockback, DPS mempunyai tambahan movement speed dan reload speed sementara jika berhasil membunuh lawan, dan Support sendiri memiliki regenerasi HP ketika dalam posisi tidak terkena damage. Semua ability pasif ini tentunya sangat berguna dikarenakan pola permainan yang jauh berubah dibanding seri sebelumnya.

Overwatch 2 juga menambah tiga hero baru yaitu Junkerqueen sebagai Tank, Sojourn sebagai DPS, dan Kiriko sebagai Support. Berdasarkan roadmap yang dirilis, terdapat karakter baru di bulan Desember nanti untuk mengisi role Tank.

Semua akan battle pass pada waktunya

Selain mode payload dan capture yang dibawa dari Overwatch 1, terdapat mode baru bernama Push, lengkap dengan beberapa map baru. Dalam mode Push, kedua tim harus merebutkan sebuah robot untuk mendorong pembatas ke jalur lawan. Semakin jauh pembatas yang didorong, kemungkinan menang semakin besar. Mode ini sendiri termasuk cukup adil bagi kedua tim, dikarenakan tidak ada posisi yang menguntungkan dari salah satu tim yang lebih mendominasi. Sayangnya untuk variasi map belum begitu banyak tersedia untuk mode ini, terlebih beberapa map lama yang sudah ada di Overwatch 1 juga tidak atau belum dihadirkan kembali.

Perubahan game berbayar menjadi free to play tentunya juga mengubah beberapa sistem microtransaction. Kehadiran Battle Pass menjadi salah satu fitur yang paling terlihat ketika memainkan Overwatch 2. Jika dulu kita mengenal adanya loot box berisi berbagai kosmetik, kini sistem tersebut dihilangkan. Pemain bisa mendapatkan berbagai macam item kosmetik dari Shop dan Battle Pass. Artinya pemain harus mengeluarkan uang untuk membeli skin yang diinginkan. Walaupun untuk free pass sendiri masih akan mendapatkan beberapa item, tentunya tidak sekeren seperti di versi berbayar. 

Hadirnya battle pass mengorbankan sistem level yang sudah dikenal di Overwatch 1. Kini pemain akan mendapatkan exp untuk battle pass sendiri. Exp tersebut juga bisa diraih dari berbagai macam challenge yang tersedia. Walaupun menurut penulis, challenge yang dihadirkan cukup sulit dan membutuhkan waktu lama bagi pemain kasual, khususnya pada challenge mingguan.

Selain dari kosmetik, Blizzard juga menyuntikan Hero baru di sini. Untuk hero baru seperti Kiriko, pemain harus melakukan grinding hingga level 55. Kabar baiknya, hero tersebut tersedia secara gratis walaupun tidak membeli versi premium dari battle pass. Namun grinding yang lama membuat pemain seperti dipaksa untuk membeli premium battle pass yang memiliki keuntungan 20% exp boost. Terlebih Overwatch sendiri memiliki meta berdasarkan pemilihan hero

Mode kompetitif yang harus diperbaiki

Tidak lengkap jika berbicara soal game kompetitif tanpa membahas mode ranked. Dalam Overwatch 2, Blizzard menggunakan sistem kompetitif baru. Berbeda dengan seri sebelumnya yang menggunakan point MMR, kini pemain diharuskan memenangkan match sebanyak tujuh kali atau 20 kali kalah untuk menentukan rank apa yang akan didapat. Menariknya, sistem seperti ini akan terus berlanjut walaupun pemain sudah menyelesaikan tahap penentuan rank. Sisi baiknya pemain bisa bermain lebih baik jika pada match sebelumnya kalah. 

Namun sisi buruknya, pemain jadi tidak tahu apakah rank selanjutnya akan membawa dirinya meraih rank lebih tinggi atau justru sebaliknya, karena tidak terlihatnya poin plus atau minus seperti di game lain. Kekurangan lainnya skill based matchmaking juga terlihat tidak adil. Dalam beberapa kasus, banyak pemain yang memiliki rank Bronze yang merupakan rank terendah, dipasangkan dengan lawan di Grandmaster. Blizzard juga kini menghilangkan icon rank dalam match-nya, sehingga seluruh pemain tidak tahu rank apa yang ia akan lawan.

Sebagai kesimpulan, apakah Overwatch 2 pantas disebut sebagai sekuel? Jawabannya adalah bisa dan tidak. Perubahan 6v6 menjadi 5v5 adalah sebuah perubahan besar yang sangat dirasakan oleh pemain. Semua strategi, hero, hingga meta sudah pasti berbeda. Blizzard sendiri juga harus melakukan beberapa re-work pada hero-nya. Penambahan map, hero, dan mode juga termasuk suatu perubahan besar yang dilakukan. Namun kembali lagi, semua hal tersebut juga bisa disebut sebagai update besar yang bisa dilakukan di Overwatch 1. Pada dasarnya tidak ada syarat yang pasti untuk menentukan sebuah game pantas disebut sekuel atau tidak, terlebih untuk game live service seperti Overwatch. Namun keputusan Blizzard untuk menunda mode cerita sendiri membuat Overwatch 2 memang terasa seperti tidak utuh. 

Pada intinya Overwatch 2 membawa suasana baru dan lama secara bersamaan, khususnya bagi pemain yang juga memainkan seri pertamanya. Menjadikan game ini free to play juga menjadi langkah yang sangat tepat terlebih franchise Overwatch menjadi lebih dikenal oleh banyak kalangan dari sergapan game-game free to play lain. Kalimat yang tepat untuk mengambarkan game ini adalah “baru tapi masih terasa familiar“.

Bagi yang ingin mencobanya bisa mengunduh secara langsung melalui link berikut: Overwatch 2 (blizzard.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here