Menghadirkan game naratif atau story driven tidak selamanya harus berfokus pada sisi cerita saja, namun aspek lain yaitu gameplay juga akan menambah keseruan dalam memainkan game tersebut. Sayangnya, game yang mengaplikasikan hal seperti ini sangat jarang ditemui. Road 96 sendiri berhasil mengangkat aspek tersebut yang membuat game ini terasa unik di sepanjang permainannya. Tetapi apakah game ini juga bagus di sisi lainnya?

Road 96 sendiri merupakan sebuah game buatan dari DigixArt, sebuah studio indie yang memang jarang disebutkan namanya. Sebagai sinopsis singkat Road 96 memuat pandangan politik yang cukup kuat. Kita berperan sebagai para remaja yang memutuskan untuk meninggalkan negara Petria dikarenakan cukup kacaunya negara tersebut. Terlebih hari pemilihan sekian lama semakin dekat, dikhawatirkan kerusuhan akan terjadi. 

Tidak Ada Karakter Utama

Kita sebagai pemain akan memerankan para remaja yang kabur untuk mencari kebebasan. Menariknya Road 96 tidak memiliki satu karakter utama, melainkan di setiap episodenya kita memerankan karakter anonim yang berbeda. Dengan satu tujuan yang seluruhnya sama, yaitu keluar dari negara tersebut, jalur yang kita ambil nantinya mempengaruhi alur cerita yang berbeda pula. 

Mengusung perspektif orang pertama, Road 96 menawarkan gameplay eksplorasi berdasarkan area. Dalam satu episode, pemain akan mengunjungi beberapa lokasi berbeda. Lokasi-lokasi inilah yang akan menghubungkan alur dari ceritanya. Uniknya pemain tidak hanya melakukan eksplorasi menemukan berbagai macam item, mengobrol dengan tokoh utama, atau sekedar membaca informasi yang tidak penting, melainkan akan ada beberapa mini game menarik yang harus dikerjakan. Seperti membantu salah satu tokoh mencari frekuensi radio, bekerja sebagai petugas pom bensin, ataupun sekedar bermain hockey ice di sebuah bar. Aktivitas-aktivitas seperti ini yang membuat Road 96 dikatakan sebuah game, bukan film interaktif yang hanya sekedar mengandalkan QTE dan memilih dialog percakapan.

Dikarenakan remaja-remaja ini kabur dari rumah dan melakukan perjalanan hanya seorang diri, DigixArt menyuntikan mekanisme menarik dalam game buatannya. Setiap remaja yang pemain kendalikan memiliki jarak tempuh berbeda untuk sampai ke perbatasan, uang yang jumlahnya berbeda pula, dan stamina yang juga harus diperhatikan. Setiap perjalanan akan mengkonsumsi stamina tergantung dari jalur apa yang dipilih, seperti berjalan akan mengurangi stamina lebih besar dibanding menyetir mobil curian atau menumpang kendaraan yang lewat. 

Terasa Kurang Matang

Segala aspek dan konsep yang sudah dibuat sedemikian rupa tadi sayangnya tidak dibungkus dengan sempurna. Hal yang sangat-sangat mengganggu adalah alur cerita yang tidak berhubungan dengan cerita sebelumnya. Dalam sebuah situasi kami sempat bertengkar dengan salah satu tokoh utama dalam game ini di restoran, setelah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan mobil, scene selanjutnya memperlihatkan tokoh sebelumnya ikut menumpang di mobil kami yang seharusnya tidak terjadi. Lebih anehnya lagi tokoh tersebut seperti tidak menyadari bahwa mereka sedang bertengkar sebelumnya. 

Untuk kasus lain, beberapa dialog juga dirasa tidak masuk akal. Respon dari lawan berbicara kita bisa berubah secara drastis tanpa pemicu apapun. Hal-hal seperti ini yang membuat Road 96 memiliki sebuah konsep sangat baik namun tidak terasa matang dalam implementasinya.

Sebagai kesimpulan Road 96 cukup memberikan gameplay yang segar dalam genre narrative. Visual yang disajikan juga unik ala animasi 3D lawas dilengkapi voice over di seluruh karakternya. Namun sayangnya sisi cerita dan gameplay di beberapa bagian terasa dipaksakan untuk sesuai dengan ending yang memang sudah ditentukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here